Archive for the ‘Teknikal’ Category

30 October

Penjelasan kabel HDMI – versi kabel HDMI

Blu-ray Disc di perkenalkan pada tahun 2006, mampu menghadirkan fitur format audio HD yang membutuhkan koneksi HDMI untuk hasil terbaik. Dolby Digital Plus (DD+), Dolby TrueHD, dan DTS-HD Master Audio memerlukan kapasitas koneksi yang melebihi kapasitas transfer kabel S/PDIF. Kabel HDMI 1.3 dapat menyalurkan sinyal data DD+, TrueHD, dan nd DTS-HD yang masih terkompres (belum di decode) sehingga AV receiver yang telah memiliki fasilitas decode format tersebut dapat meng-decode data audio dalam bentuk terkompresi.

Konten kepingan Blu-ray dapat memerintahkan Blu-ray disc player untuk mencampur sinyal audio terkompres dengan sinyal audio yang telah di-decode dan kedua sinyal ini dapat bersamaan disalurkan oleh kabel HDMI. Beberapa alat pemain Blu-ray selalu men-dekode sinyal digital menjadi sinyal audio analog dengan keluaran LPCM dan sinyal audio analog multi channel ini dapat disalurkan melalui kabel HDMI dengan syarat AV receiver men-supports input audio multi-channel LPCM dengan koneksi HDMI. Selanjutnya kabel HDMI juga men-supports format HDCP, yang menghasilkan repro audio resolusi tinggi yang hanya dapat disalurkan dengan kabel HDMI 1.3.

HDMI VERSI

HDMI Vibrate

KETERANGAN TABEL:

A. 36-bit support is mandatory for Deep Color compatible CE devices with 48-bit support being optional.
B. Maximum resolution is based on CVT-RB blanking which is a VESA standard for non-CRT based displays.[86] Using CVT-RB blanking 1920×1200 would have a video bandwidth of 3.69 Gbit/s and 2560×1600 would have a video bandwidth of 8.12 Gbit/s.
C. Using CVT-RB blanking would have a video bandwidth of 8.12 Gbit/s.
D. Using CVT-RB blanking would have a video bandwidth of 7.91 Gbit/s.
E. Using CVT-RB blanking would have a video bandwidth of 7.39 Gbit/s.
F. Even for audio bitstream formats that a given HDMI version cannot transport it may still be possible to decode the bitstream in the player and transmit the audio as PCM with no loss of quality.
G. CEC has been in the HDMI specification since version 1.0 but has only begun to be used in CE products with HDMI version 1.3a.
H. Playback of SACD may be possible for older HDMI versions if the signal source (such as the Oppo 970) converts to LPCM. For those receivers that have only PCM DAC converters and not DSD this means that no additional resolution loss occurs.
I. Large number of additions and clarifications for CEC commands. One addition is CEC command allowing for volume control of an AV receiver.

17 October

Tembaga pada kabel Harmonic Technology adalah bahan tembaga dengan teknologi tertinggi saat ini.


Dari tabel dapat di lihat bahwa tingkat kemurnian tertinggi tembaga adalah dengan teknologi peleburan OFC 99,99999% dan PCOCC 99,99999%.

Sedang ukuran butiran tembaga terbesar adalah PCOCC 99,999% dan PCOCC 99,99999.

Dari tabel ini dapat ditarik kesimpulan bahwa bahan tembaga yang di gunakan pada kabel Harmonic Technology adalah bahan tembaga dengan teknologi tertinggi saat ini.

Salam,

Herwin Gunawan

www.vokuz.com

17 October

Keunggulan Single Crystal Conductor dari Harmonic Technology

Teknologi Kabel Single Kristal

Pengembangan teknologi di bidang audio video ternyata tidak terbatas pada perangkat. Kabel pun tak luput dari perhatian. Saat ini teknologi tercanggih dalam perkabelan adalah teknologi yang disebut teknologi single kristal.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam suatu sistem audio video, perkabelan cenderung kurang diperhatikan. Padahal kabel sebagai penghantar sinyal dapat mempengaruhi kualitas suara yang dihasilkan dari suatu sistem. Kabel yang baik adalah kabel yang memiliki distorsi paling rendah –bahkan kalau bisa tanpa distorsi- terhadap sinyal yang dihantarkannya. Dalam suatu sistem high-end, syarat ini mutlak dibutuhkan dalam pemilihan kabel yang akan digunakan.

Terkait dengan hal ini ada beberapa hal yang patut dipertimbangkan dari sebuah kabel. Resistansi, kapasitansi, dan induktansinya merupakan beberapa faktor penting yang bisa mempengaruhi performa sistem secara keseluruhan. Namun diluar itu, ada beberapa aspek lain yang seringkali terlupakan walau sebenarnya juga mempengaruhi kualitas sebuah kabel. Salah satunya adalah tipe konduktor dan kemurniannya (purity).

Perkembangan teknologi kabel juga merambah aspek satu ini. Tercatat beberapa teknologi telah diciptakan untuk menciptakan sebuah kabel performa tinggi. Sampai pada akhirnya, di tahun 1986 Profesor Ohno dari Chiba Institute of technology menemukan teknologi Continous Casting Copper. Teknologi Continous Casting Copper ini mampu menghasilkan bahan konduktur Single Crystal (Kristal Tunggal) yang mampu mentransfer sinyal audio video tanpa tandingan saat ini. Untuk menjelaskan bagaimana hebatnya teknologi peleburan tembaga kontinu di banding dengan teknologi yang ada mari kita bahas satu per satu.

TPC (Tough Pitch Copper)

Pertama-tama adalah Tough Pitch Copper (TPC). TPC dibuat dengan cara memanaskan tembaga sampai meleleh. Kemudian tembaga cair dimasukan ke dalam wadah pencetakan. Wadah pencetakan berfungsi sebagai pendingin. Tembaga yang keluar dari wadah ditarik berulang kali sampai didapatkan ukuran yang diinginkan. Proses ini dikerjakan dalam suhu normal.

Karena semua proses di kerjakan di ruangan biasa, maka dalam proses pembuatannya tembaga terkontaminasi dengan udara sekitar seperti oksigen dan hydrogen. Umumnya tembaga jenis ini mengandung 300 – 500 PPM (Parts Per Millions) oksigen. Kontaminasi Oksigen dan Hidrogen tersebut menyebabkan adanya distorsi sinyal yang sangat mengganggu.

TPC adalah konduktor tembaga yang umum digunakan untuk kabel elektronik. Kita bisa menjumpainya pada kabel-kabel seperti kabel listrik untuk lampu, peralatan rumah tangga dan kabel audio tanpa merek.

OFC (Oxygen Free Copper)

Akibat tuntutan dari audiophile yang semakin kritis maka timbullah OFC. Dikembangkan di Jepang pada tahun 1975, proses OFC sebenarnya mirip dengan proses TPC. Dalam proses ini, tembaga cair di masukan dalam wadah cetak dan kemudian ditarik. Yang membuat OFC lebih baik adalah OFC diproses dalam ruangan hampa udara. Sehingga proses tersebut tidak dipengaruhi oleh udara-udara yang mengandung oksigen maupun hydrogen. Hasilnya, tembaga yang dihasilkan mengandung 10 PPM oksigen. Jauh lebih rendah dibandingkan dengan TPC.

Selain itu, daya hantar OFC meningkat antara 0,5 – 2% lebih baik dari TPC. Seiring dengan perkembangan teknologi pabrik, pembuat kabel OFC kini dapat menghasilkan bahan konduktor yang tingkat kontaminasi sangat rendah. Dan melalui teknologi annealing (pelunakan) dihasilkan OFC dengan butiran kristal yang halus dan rapat. Konduktor jenis ini punya kemampuan daya hantar yang baik, dan karenanya banyak digunakan pada kabel-kabel yang bermerek.

Gambar 1. Teknologi peleburanb berkesinambungan ciptaan Prof. Ohno dan teknologi peleburan konvensional.

LC-OFC (Linear Crystal-Oxygen Free Copper)

Pada kisaran tahun 1975 juga, Hitachi mengembangkan metode sendiri untuk mengurangi butiran kristal. Proses LC-OFC ini telah dipatenkan oleh Hitachi dan menjadi produk eksklusif mereka. Tipikal kristal yang dihasilkan konduktor LC-OFC dalam setiap 1 mm (diameter) adalah sepanjang 130mm. Cukup signifikan dibanding konduktor TPC dan OFC yang umumnya hanya sepanjang 4mm. Oleh sebab itu kabel LC-OFC dianggap lebih baik dari pada TPC atau OFC.

Gambar 2. Foto butiran antara oxygen free copper dan single kristal copper

PCOCC (Pure Copper by Ohno Continuous Casting Process)

Tetapi agaknya audiophile mania masih belum puas, sehingga akhirnya di temukan teknologi PCOCC. PCOCC adalah proses “State of The Art” dari teknologi peleburan konduktor. PCOCC dihasilkan melalui proses Continuous Casting (peleburan berkesinambungan) yang telah dikembangkan oleh Prof. Ohno dari Chiba Institute of Technology Japan.

Proses PCOCC dilakukan diruang hampa seperti proses OFC tetapi bedanya adalah dalam proses peleburan dan pembentukan tembaga. Tembaga Murni cair di masukan dalam wadah cetak yang bersuhu tinggi. Tembaga tersebut kemudian ditarik melalui proses pendinginan.

Proses ini menghasilkan single-kristal (butiran tunggal) yang homogen dan panjang yang tidak terputus – putus ataupun retak. Tipikal kristal yang dihasilkan proses PCOCC untuk 0.3mm (diameter) adalah sepanjang 125m! Lagi pula kadar oksigen dan hydrogennya sangat rendah, atau hampir mendekati nol.

Karena proses pembuatan yang spektakuler ini, kabel yang dihasilkan memiliki beberapa kelebihan yang sangat signifikan dibanding proses lainnya. Kelebihan tersebut diantaranya adalah penurunan rasio tegangan pada tembaga, sehingga PCOCC memiliki kelenturan yang lebih baik, berat jenis yang lebih besar dan faktor “Q” yang lebih tinggi.

PCOCC juga memiliki faktor isolasi yang lebih tinggi terhadap pengaruh elektro magnetik. PCOCC single-crystal (butiran tunggal) tidak memiliki sudut-sudut butiran sehingga membuat transmisi sinyal audio yang lebih baik. PCOCC tidak menghalangi atau merubah sinyal audio secanggih apapun dan memiliki karakter distorsi terendah di dunia saat ini.

Sejak teknologi ini diperkenalkan pada 1986 oleh Profesor Ohno, riset dan pengembangan terus dilakukan untuk menyempurnakannya. Beberapa merk kabel tertentu juga memanfaatkan proses ini. Salah satu diantaranya adalah Harmonic Technology.

Harmonic Technology melanjutkan riset dan pengembangan yang terus menerus untuk membuat PCOCC yang lebih baik Saat ini Harmonic Technology dapat memproduksi tembaga dengan kemurnian 99,99999% atau “7N Copper” karena kabel ini memiliki karakteristik “7Nine” untuk kemurnian tembaga. Tingkat kemurnian seperti itu otomatis membuatnya menjadi penghantar sinyal terbaik bagi suatu sistem audio video. Pada akhirnya performa sistem secara keseluruhan pun dapat diperoleh secara maksimal.

www.vokuz.com

Salam,

Herwin Gunawan
www.vokuz.com

17 October

Mengapa kualitas visual menurun apabila kita memakai kabel video yang panjang

Mengapa kabel video sering bermasalah jika panjangnya lebih dari 3 meter?
Seperti pepatah abadi yang berbunyi: Keindahannya tidak dapat dilukiskan dengan kata – kata atau tidak ada kata – kata yang dapat melukiskan betapa indahnya pemandangan ini. Terinspirasi oleh pepatah tersebut ilmuwan, peneliti, perusahaan besar berlomba – lomba untuk menciptakan produk visual yang dapat mengabadikan dan merepro seindah aslinya.
Untuk mengimbangi teknologi tersebut kabel video adalah merupakan komponen penting yang mempengaruhi hasil akhir reproduksi tayangan gambar.
Saat ini di pasaran terdapat beberapa format kabel video seperti: coaxial-komposit, RCA-komposit, s-video, 3RCA – komponen RGB, 5 RCA komponen, DV-i digital, S-cart.
Kabel video berbeda dengan kabel audio analog dimana kabel audio berfungsi mentransfer sinyal berfrekuensi rendah 20 – 20 kHz. Sedangkan kabel video berfungsi untuk mentransfer sinyal frekuensi tinggi 8MHz – 10 MHz untuk format NTSC dan 35 MHz untuk format HDTV.
Penurunan kualitas sinyal akibat efek “Transmission Line”.
Transmission Line adalah efek yang timbul karena panjang kabel melebihi 1/10 panjang gelombang sinyal. Dalam mentransfer sinyal video yang merupakan arus sinusoida maka rumus yang di pakai adalah:
wavelength (in meters) = v / f
V = kecepatan sinyal (300,000,000 meter/detik)
f = frekuensi sinyal
Perbandingan: Frekunsi sinyal audio adalah 20 hz – 20,000 hz maka panjang gelombang audio adalah 15,000,000 meter sampai dengan 15,000 meter.
Sedang frekuensi sinyal video adalah 10 MHz maka panjang gelombang sinyal video adalah 30 meter.
Kita tentu ingin sinyal yang ditransfer melalui kabel sampai ke TV atau proyektor kita sesempurna mungkin. Dari rumus diatas kita lihat bahwa untuk sinyal video 10MHz maka panjang gelombang sinyal adalah 30 meter sedang efek “Transmission Line” terjadi pada kabel yang melebihi 1/10 panjang gelombang atau kabel yang panjang lebih dari 3 meter. Jika kita menghubungkan TV kita dengan kabel audio biasa atau kabel bukan khusus untuk kabel video maka terjadi sebagian sinyal akan terrefleksi (terpantul) dapat dijelaskan dengan rumus dibawah ini:
Vi = Voltase Insidental sumber sinyal
Zo = Karakteristik impedansi sumber sinyal
Vr = Voltase Insidental tujuan sinyal
Zr = Karakteristik impedansi tujuan sinyal
Dari rumus diatas disimpulkanlah bahwa karakteristik impedansi yang cocok untuk mentransmit sinyal video adalah 75 ohm sedang kabel audio umumnya memiliki karakteristik impendansi 35-50 ohm.
Rumus impedansi karaketerisktik sebagai berikut: (Reference Data for Radio Engineers – Howard W. Sams)

D = diameter isolasi(dielektrik),
d = diameter konduktor,
E = dielektrik konstant (E=1 untuk udara)
Untuk mendapatkan kabel video komposit/komponen yang benar – benar 75 ohm diperlukan memperhatikan faktor sebagai berikut: konstruksi kabel, bahan konduktor, bahan dielektrik, konektor RCA 75 ohm, penyolderan yang tepat dari kabel ke konektor RCA 75 ohm dan perlindungan kabel.
Fakta dilapangan
Fakta yang dilapangan sering kali kita kurang memperhatikan faktor – faktor penentu dalam membeli kabel komponen.
Faktor penentu kualitas kabel video adalah: spesifikasi kabel 75 ohm, konstruksi kabel, material konduktor, material dielektrik (isolasi), RCA konektor 75 ohm, cara merakit kabel tersebut, penyolderan dan sebagainya.

Faktor lainnya adalah gangguan gelombang radio, elektromagnet. Jika diperlukan kabel videoyang panjang/ ada perlu membuat sendiri berikut adalah tips pemasangan:

  • Rencanakan jalur kabel sependek mungkin
  • Hindari pemakaian paku untuk memantek kabel di dinding. Paku dapat memberikan gangguan elektromagnet pada kabel.
  • Jauhkan kabel dari perangkat yang mungkin memancarkan gelombang radio atau electromagnet seperti: kipas angin, motor listrik dll.
  • Gunakan pelindung kabel seperti pipa, selang atau pvc untuk kabel
  • Sebaiknya gunakan konektor RCA – 75 ohm solderless. Seperti buatan Analysis-Plus.
Uji Coba

Untuk menguji teori diatas saya akan melakukan beberapa uji coba sebagai berikut:

Uji coba dilakukan dengan memakai DVD player high end yang mengadopsi teknologi terkini, TV 34” dengan teknologi terkini. Dalam uji coba ini saya memakai film DVD – Toy Story I Original – Chapter 1 – Menit ke 2:44 (pause). Momen tersebut menggambarkan Sherif Woody tergeletak di atas sofa tamu berwarna hijau dengan latar belakang perapian dan ruang lainnya.

Test 1 dengan kabel komposit RCA murahan 1,5 meter ( Rp 10.000).

Kabel RCA ini memiliki diameter kabel yang sangat tipis dan kelihatan rentan. Kabel seperti ini biasanya memakai Tough Pitch Copper sebagai bahan konduktornya. Konektor RCA menyatu dengan kabel.Gambar yang direproduksi oleh kabel ini memberikan hasil sebagai berikut: Tekstur fabric sofa yang berwarna hijau tidak terlihat dengan warna hijau pucat. Topi kulit sherrif Woody juga pucat. Gambar terasa hambar, pucat, kurang dimensi.

Test 2 dengan kabel komposit RCA Straight Wire Harmony untuk audio – 3 meter. (Rp 200.000 sepasang).

Kabel ini memiliki jacket berwarna hijau degan bahan Foam PE. Bahan Konduktor adalah Oxygene Free Copper dengan konstuksi Dual Shield Coax. Konektor RCA – Gold Flange – Split Pin. Kabel ini berimpedansi sekitar 40 ohm. Hasil reproduksi gambar dibanding dengan test 1 adalah: mulai terlihat baying-bayang tekstur fabric sofa dan warna hijau sedikit lebih baik. Memberikan hasil sedikit lebih baik dari test 1.

Test 3 dengan kabel komposit RCA Analysis Plus – Copper Oval in untuk audio 1 meter. (USD 249 sepasang).

Kabel ini memakai bahan Oxygene Free Copper dengan penampang kabel oval. Jacket dieletrik berwarna hitam dan agak kaku. Konektor locking RCA model WBT. Gambar terlihat lebih berdimensi mungkin akibat kemampuan kabel ini menampilkan resolusi yang lebih tajam untuk benda di depan dan resolusi dan kegelapan gambar background yang lebih pekat dan vivid. Ternyata material kabel juga mempengaruhi hasil reproduksi gambar.

Test 4 dengan kabel coaxial 75 ohm Harmonic Technology – Cyber Link Silver RCA 2 meter. (USD 249 per buah )

Cyber Link Silver sebenarnya adalah kabel digital coaxial. Tetapi karena kabel ini memiliki spesifikasi true 75 ohm maka saya ini membandingkan dengan test 4. Cyber Link Silver memakai material single kristal silver sebagai bahan konduktornya. Jacket berwarna putih dengan locking RCA Furutech dan konstruksi balance geometri.

Dengan test ini saya ingin membuktikan apakah kabel 75 ohm berbeda dengan kabel audio 50 ohm. (test 3).

Hasil test memberikan hasil pada tekstur sofa warna hijau yang terlihat lebih jelas begitu pula kain penutup sofa berwarna kuning orange terlihat jadi lebih natural. Warna kulit topi Sherrif Woody terlihat lebih alami tidak glossy seperti pada test 3. Batu bata pada perapian terlihat menjadi merah tua bukan coklat tua seperti pada test 1 dan 2. Dan black level di dalam perapian hitam pekat tidak terang seperti test 3.Bayangan pada sofa akibat sinar yang jatuh ke kaki sherrif Woody juga lebih hidup. Secara keseluruhan detail, dimensi, color tone dan cahaya tampil paling bai k dibanding test 1,2 dan 3.

Test 5 dengan kabel komponen RCA tanpa merek 2 meter. (Rp 100.000,- satu set)

Kabel ini memiliki spesifikasi mirip dengan kabel pada test 1. Hanya kabel ini memiliki 3 coaxial cable. Hasil test memberikan gambar dengan ukuran pixel yang lebih rapat dan gambar yang lebih halus dibanding test 1s/d4. Tetapi color tone, dimensi, dan cahaya masih lebih baik pada test 4.

Test 6 dengan kabel komponen RCA – Harmonic Technology – Silver Component – 2 meter ( USD 150 per set)

Kabel ini memakai konduktor single kristal dengan jacket berwarna abu-abu. Konektor RCA warna merah, biru dan hijau kurang bagus penampilan nya. Impedansi 75 ohm. Hasil test memberikan tampilan gambar yang halus, dimensi depan-belakang yang baik, color tone yang natural dan cahaya yang sejuk dimata.

Kesimpulan

Untuk mendapatkan hasil home theater yang professional sebaiknya manfaatkanlah teknologi yang tersedia pada DVD dan TV/Proyektor anda. Dengan teknologi kualitas gambar bisa ditingkatkan tanpa biaya yang besar. Contoh perbandingan antara komposit dan komponen. Dan membeli kabel yang baik pun belum tentu memberikan hasil yang baik jika kabel tersebut tidak di rakit dan di instal dengan baik.

Salam,
Herwin Gunawan
www.vokuz.com